Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2012

Toni Blank si Artis Dunia Maya

Sudah tahukah anda tentang “Toni Blank” ??

Menurut Toni blank, nama aslinya adalah “TONI EDI SURYANTO“. Dia juga mengatakan jika di Jerman, nama panggilannya adalah “TONIKUM BAYER“. Toni lahir di Yogyakarta, di salah satu pedusunan di daerah Bantul pada tanggal 24 September 1969. Dia mengatakan, dahulu di Bantul heboh karena terdapat bayi ajaib, dan “bayi ajaib” itu adalah dirinya. Ia berkata pernah bercita-cita sebagai “SUPER STAR SKY atau “PELATIH PESAWAT UDARA atau “PELATIH NASA“. Selain itu ia juga mengatakan jika dahulu pernah sekolah di “SMA PADMANABA YOGYAKARTA” dan pernah kuliah di “UGM“.
Itulah sekilas biografi yang entah asli atau bukan yang keluar dari celotehan mas Toni sendiri, sebenarnya Mas Toni hanyalah seorang yang kurang waras dan saat ini tinggal di salah satu panti sosial di Yogyakarta. Karena suka membaca, maka ia pun sering terlihat seperti orang normal dan pintar, kadang-kadang perkataannya nyambung, tapi lebih banyak yang ga

Minggu, 29 Januari 2012

Download Ebook Soe Hok Gie - Catatan Seorang Demonstran

cetakan pertama

Catatan seorang Demonstran merupakan buku harian seorang Soe Hok Gie, Gie adalah mahasiswa fakultas sejarah Universitas Indonesia, dan juga salah satu penggagas Mapala UI, organisasi pecinta alam di UI.Soe Hok Gie lahir di Jakarta 17 Desember tahun 1942 dan meninggal di gunung Semeru 16 Desember 1969.

Menengok Situs Megalith Gunung Padang


Setelah sekian lama akhirnya saya bisa lagi mengunjungi situs gunung padang, ini di karenakan kami dari Mapala Arga Wilis, mendapatkan undangan langsung dari Dewan Kesenian Cianjur untuk datang langsung pada acara Ritus Budaya Gunung Padang, Situs ini berada di daerah Karya Mukti, Cianjur. Berada diantara pegunungan Teh dan juga gunung hutan.

Situs ini merupakan situs Megalitikum terbesar di Dunia, karena situs ini sudah hampir menyerupai Istana kerajaan. yang unik di sana adalah tumpukan2 batu yang berbentuk lonjong dan hexagonal, serta beberapa batu yang bisa berbunyi seperti alat musik gamelan, dan juga beberapa artefak yang masing2 berbentuk kujang dan cakar harimau.

Kamis, 26 Januari 2012

Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan ( Sebuah Inspirasi )

 
 Hari ini saya mendapatkan sebuah email dari seorang teman, dan saya merasa kisah ini sangat menginspirasi saya, apalagi dengan potret kepolisian di Indonesia saat ini, Awalnya saat membaca judulnya biasa saja, namun setelah membaca semua tulisannya, hati bergetar, mata berkaca-kaca akan keteguhan prinsipnya... Semoga tulisan dari seorang teman ini dapat memberikan manfaatnya kepada kita semua.... 

Kamis, 22 September 2011

Suku Dayak Hindu – Budha Bumi Segandu – Indramayu


            

       Bila suatu ketika kita berkunjung ke daerah Indramayu, tidak jauh dari Pantai Eretan Wetan, di sepanjang lajur sebelah kanan jalan by pass dari arah Jakarta ke Cirebon (Jalur Pantura), terdapat  sebuah jalan kecil yang bila ditelusuri menuju ke lokasi pemukiman sebuah komunitas yang menamakan dirinya Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu.

Senin, 28 Maret 2011

“AIR MATA PDS HB JASSIN”

Berawal dari SK (Surat Keputusan) Gubernur DKI Jakarta No. SK IV 215 tertanggal 16 Februari 2011, yang ditandatangani langsung oleh Gubernur Provinsi Jakarta, Fauzi Bowo. Surat Keputusan itu berisi tentang rincian alokasi dana bantuan untuk PDS (Pusat Dokumentasi Sastra) HB Jassin, yang mana PDS HB Jassin sebagai pusat sastra terlengkap di Indonesia bahkan di dunia, hanya mendapatkan anggaran sebesar Rp.50 juta pertahun. Padahal pada tahun 2003 pusat sastra ini pernah mendapatkan anggaran sebesar Rp.500 juta, yang kemudian terus menyusut dan pada tahun lalu jumlahnya Rp.165 juta, yang akhirnya pada tahun ini tambah “parah”, yaitu hanya Rp.50 juta pertahun.
Sang Gubernur pun hanya bisa membela diri dengan mengaku khilaf, dia mengaku tidak memeriksa dahulu mengenai perincian alokasi hibah dan bantuan itu saat menandatanganinya. Ya itulah akibatnya kalau bekerja dengan menutup mata, tak ada gunanya !!
Sepertinya istilah tutup mata atau tidak peduli memang pantas untuk di berikan pada pemerintah DKI Jakarta, karena jika mereka benar-benar memperhatikan pengembangan kebudayaan di wilayahnya, mestinya keteledoran seperti itu tidak terjadi. Pemerintah benar-benar tidak peduli dan tidak mau tahu tentang pelestarian harta yang amat berharga itu, apakah mereka

Selasa, 04 Januari 2011

Buku-buku yang Dilarang !

1.Pramoedya Ananta Toer, Hoakiau di Indonesia, dilarang oleh penguasa militer pada 1959  

2.Sabar Anantaguna, Yang Bertanahair tapi Tak Bertanah, dilarang oleh penguasa militer

3.Mohammad Hatta, Demokrasi Kita, dilarang oleh penguasa militer pada 1960

4.Agam Wispi, Yang Tak Terbungkamkan, dilarang oleh penguasa militer pada 19 Juli 1961 

5.Agam Wispi, Matinya Seorang Petani (Djakarta: Bagian Penerbitan Lekra, 1961), dilarang oleh penguasa militer pada 1961 

6.Soepardo S.H. dkk., Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965

7.Pramoedya Ananta Toer, Keluarga Gerilya, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965

8.Pramoedya Ananta Toer, Perburuan, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965

Pelarangan Buku di Indonesia !

 
            Praktek pelarangan buku di Indonesia muncul pertama kali pada akhir 1950an, seiring dengan meningkatnya kekuasaan militer dalam perpolitikan Indonesia. Sejumlah perwira militer yang menamakan gerakannya PRRI/Permesta dan DI/TII memberi dalih pada KSAD Mayjen AH Nasution selaku Penguasa Militer, untuk melarang peredaran barang-barang cetakan yang dianggap memuat atau mengandung ‘ketjaman-ketjaman, persangkaan (insinuaties), bahkan penghinaan’ terhadap pejabat negara, memuat atau mengandung ‘pernjataan permusuhan, kebencian atau penghinaan’ terhadap golongan-golongan masyarakat, atau menimbulkan ‘keonaran’